Sabtu, 04 April 2009

Gambar Caleg

Menjelang pesta demokrasi negeri ini, disambut dengan sangat meriah. Bukan dengan bendera merah putih layaknya tujuh belasan. Tapi dengan bertebarannya gambar caleg yang mewarnai penjuru negeri. Begitu MK mengetuk palu tentang suara terbanyak, bukan lagi nomor urut, para caleg itu makin bernafsu untuk unjuk dikenali masyarakat. Ada kisah unik di Jakarta, caleg dari partai besar nomor urut 1. Yakin banget kalau bakal masuk. Pemilu lalu, meski bukan penguasa di Ibukota, tapi partainya memperoleh cukup banyak kursi DPR, masak tahun ini 1 aja nggak dapat, begitu pikirnya. Tapi dengan ditelurkannya aturan suara terbanyak, langsung tiap 10 m di daerah pilihannya muncul poster dirinya.
Kembali ke gambar-gambar caleg tadi. Aku memang sudah punya pilihan, tinggal tunggu waktu aja untuk nyontreng. Namun aku coba bayangkan, betapa bingungnya orang yang belum punya pilihan. Udah partainya makin banyak, calegnya juga gak ada satupun yang dikenalnya. Banyak caleg yang merasa tenang karena gambarnya udah nyebar dimana-mana. Jadi dia seperti menciptakan rasa tenang sendiri, atau lebih tepatnya menghibur diri, bahwa orang udah mengenal dia. Dia lupa, ada ratusan orang caleg yang merasa seperti dirinya. Kalau nggak percaya, coba kita amati analogi ini. Kita disodorin album foto. Foto rame-rame. Siapa yang jadi obyek yang kita cari pertama kali? pasti kita sendiri. Begitu ada foto kita disitu, pertama kita akan cukup puas. Baru tahap berikutnya, kualitas foto kita, apakah lagi senyum, manyun, merem, dll. Nah, para caleg juga seperti itu. Tenang sekali karena fotonya ada dimana-mana. Lupa tujuan utama berkompetisi. Lupa semua caleg melakukan hal yang sama. Lupa bahwa rakyat makin pinter, nggak mudah lagi dibohongi dengan janji. Toh, semua orang tahu, foto yang bagus itu juga hasil karya studio foto, ada pengarah gaya, pengarah busana, fotografer handal, kalau belum terlihat bagus, minta foto ulang sampai terlihat seperti bintang film. Janji-janji yang tertulis sangat manis, pemilihan kata yang cerdas, kita juga tahu, itu kerjaan tim kreatif partai, atau sekurang-kurangnya kerja konsultan partainya.
Padahal, masyarakat juga perlu sentuhan langsung sang caleg, pengin tahu seberapa pintar sang caleg. Pengin ada kontribusi yang bakal diharapkan si caleg. Bukan sekedar numpang tenar bapaknya, atau tokoh partainya yang udah lebih dulu tenar, terlihat kalau nggak pede sama sekali.
Pengalamanku punya toko, untuk bisa membuat orang itu beli, perlu orang itu diberikan pemahaman dan pilihan (sebenarnya yang lebih tepat adalah dibujuk rayu), kenapa perlu beli yang itu, bukan yang lainnya. Proses sebelum itu, orang perlu diberikan alasan, untuk apa dia perlu masuk ke toko kita. Nah, proses awalnya, orang perlu tahu bahwa kita punya toko yang menjual anu dan anu. Kayaknya, para caleg baru sampai tahap pertama, bahwa dia punya jualan berupa janji-janji yang dipasang di spanduk. Apakah orang mau milih dia? Masih jauh, maih banyak tahapan yang mesti dia lalui, untuk menjadi sang terpilih.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar